Beberapa Nisab Zakat

———- Forwarded message ———-
From: abu_ukassyah <******* @*****.com>
Date: Sep 28, 2007 7:35 AM
Subject: [Salafi-Indonesia] Zakat Mal
To: Salafi-Indonesia@yahoogroups.com

Assalamu’alaykum. Apa ada yang tahu tata cara ngitung zakat mal secara
rinci? Jazakumullah Khairan Katsiran

_____________________________________________________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم

BEBERAPA NISHAB ZAKAT

Penulis: Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Yahya

Saya berkata dengan mengharap taufiq dari Allah :

حَدَّثَنِيْ شَيْخُنَا الوَالِد الشَّيْخُ المُحَدِّثُ الحَافِظُ المُعَمَّرُ الفَقِيْهُ أَحْمَدُ بنُ يَحْيَى بنِ مُحَمَّد شَبِيْر النَّجْمِيُّ آل شَبِيْر الأَثَرِيُّ –حفظه الله -

عَنْ مُحَمَّد خَيْرِ الحَجِّيِّ عَنْ أَمَةِ اللهِ الدَّهْلَوِيَّةِ عَنْ أَبِيْهاَ عَبْدِ الغَنِيِّ الدَّهْلَوِيِّ المَدَنِيِّ عَنْ مُحَمَّد عَابِدِ السِّنْدِيِّ,

(ح) وَعَنْ مُحَمَّدِ بنِ عَبدِ الرَّحْمَنِ بنِ إِسْحَاقَ آلُ الشَّيْخِ عَن سَعْدِ بنِ حَمَدِ بنِ عَتِيْقٍ عَنْ صَدِّيْق حَسَن خَان القَنُوْجِيِّ عَن عَبْدِ الحَقِّ بنِ فَضْلِ اللهِ العُثْمَانِيِّ,

كِلاَهُمَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيرِ عَنْ أَبِيْهِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيْرِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عَبدِ اللهِ بنِ سَالِمِ البَصْرِيِّ المَكِّيِّ عَن إِبْرَاهِيْمَ الكَوْرَانِيِّ عَنْ سُلْطَانِ المُزَاحِيِّ عَن النُّوْرِ الزِّيَادِيِّ عَن الشَّمْسِ مُحَمَّدِ الرَّمْلِيِّ عَن زَكَرِيَّا الأَنْصَارِيِّ عَنِ العِزِّ بنِ الفُرَاتِ عَن عُمَرَ ابنِ أميلة عَنِ ابنِ البُخَارِيِّ عَنِ الإِمَامِ الحَافِظِ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبدِ الغَنِيِّ بنِ عَبدِ الوَاحِدِ المَقْدِسِيِّ-رحمه الله- صَاحِبِ عُمْدَةِ الأَحْكَامِ, أَنَّهُ قَالَ :

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ t قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ e : ((لَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ وَلاَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ ذَوْدٍ صَدَقَةٌ وَلاَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ)).

Telah menyampaikan kepada saya Syaikhuna As-Syaikh Al Muhaddits Al Hafizh Al Faqih Mufti Kerajaan Saudi Arabia Bagian Selatan, Ahmad bin Yahya bin Muhammad Syabir An-Najmi Alu Syabir Al Atsari –Hafizhahullah- dengan sanad yang bersambung sampai kepada Al Imam Al Hafizh Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al Maqdisi –Rahimahullah-, beliau berkata dalam kitabnya Umdatul Ahkam :

Dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu , dia berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Tidak ada zakat bagi yang kurang dari lima uqiyah dan tidak ada zakat bagi yang kurang dari lima dzaud serta tidak ada zakat bagi yang kurang dari lima wasaq”.

Syaikhuna Ahmad An-Najmi Hafizhahullah- berkata :

Tema Hadits :

Keterangan tentang nishab-nishab zakat yang terdapat di dalam hadits dan sesungguhnya tidak ada zakat pada nilai yang kurang darinya.

Kosa Kata :

(الأَوَاق) : Adalah bentuk jamak dari (أُوْقِيَّة). Dikatakan dengan mendhammahkan hamzah, mengkasrahkan qaf dan mentasydidkan ya serta diakhiri dengan ta marbuthah. Banyak orang yang mengucapkannya tanpa hamzah, khususnya masyarakat keumuman.

Dan bentuk jamak dari (الأُوْقِيَّة) adalah (أَوَاقِي) seperti kata (سَرِيَّة) dan (سَرَارِي). Dan bisa dijamak juga dengan (وَقَايَا).

Uqiyah adalah sebutan bagi sejumlah uang dirham, yaitu sebutan bagi 40 dirham. Maka 5 uqiyah sama dengan 200 dirham.

Dahulu pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, uang dirham ada dua macam, yaitu baghliyah dan thabariyah.

Baghliyah adalah penisbatan kepada raja. Dikatakan (رَأْسُ البَغْلِ) yang berarti kemuliaan. Setiap dirhamnya adalah 8 danaq.

Thabariyah adalah penisbatan kepada Thabariyah Syam. Satu dirhamnya sama dengan 4 danaq.

Pada zaman pemerintahan Abdul Malik, dia mengumpulkan para Ulama’ dan menetapkan dirham Islam. Setiap dirhamnya adalah 6 danaq. Dan terdapat perdebatan bahwa Nabi shalallahu ‘alihi wasallam tidak menentukan standar nilainya. Arti ucapan ini bahwa Nabi e tidak menentukan standar nilainya. Dan ini adalah pendapat yang salah.

Saya berkata : Pendapat yang benar, bahwa Nabi e menentukan standar nilai sesuai dengan keadaannya. Dirham baghliyah dizakati sesuai dengan keadaannya. Akan tetapi nishabnya tetap berada diantara dirham yang bernilai 8 danaq dan dirham yang bernilai 4 danaq.

Jika kita berpedoman pada standar fuqara’, maka kita tetapkan nishabnya pada 200 dirham thabariyah.

Dan jika kita berpedoman pada standar pemilik harta, maka kita tetapkan nishabnya dengan (200) dirham baghliyah.

Tetapi ketika pemerintahan Abdul Malik berkuasa, dia menetapkan dirham Islam pertengahan (yaitu 1 dirham = 6 danaq), yang dijadikan standar nishab.

Sehingga nishab 200 dirham, jika kita hitung bahwa setiap 10 dirham adalah 7 mitsqal, maka nishab perak (karena dirham adalah mata uang perak) adalah 140 mitsqal. Adapun jika dikonversikan dengan gram, maka 200 dirham adalah 595 gram.

Nilai sebenarnya bahwa 200 dirham yang dikonversikan dengan gram adalah 594 gram. (1 dirham = 2,97 gram)

(ذَوْد) : Dzaud adalah sebutan bagi sejumlah onta yang berada dikisaran 3-10 ekor. Dan dikatakan : Istilah ini tidak mempunyai bentuk tunggal.

(أَوْسُق) : Adalah bentuk jamak dari (وَسَق). Dan 1 wasaq sama dengan 60 sha’ nabawi. Maka 5 wasaq sama dengan 300 sha’ nabawi. Dan 1 sha’ nabawi sama dengan 4 mud. Sementara 1 mud adalah seukuran dua telapak tangan manusia sedang.

Saya berkata : Mungkin ketetapan mud ini adalah yang berlaku pada waktu itu. Sedangkan ukuran manusia sedang waktu itu sama dengan ukuran manusia besar sekarang ini. Dan ahlul ilmi memiliki pembahasan lebih rinci tentang ukuran mud (sehingga) kami tidak berpanjang lebar membahasnya. Silahkan lihat kitab (الإِيْضَاحُ وَالتِبْيَانُ بِمَعْرِفَةِ المِكْيَالِ وَالمِيْزَانِ) karya Ibnu Rif’ah tahqiq Dr Muhammad Kharuf dari Universitas Ummul Qura (Makkah).

Dan 300 sha’ nabawi sama dengan 75 sha’ yang dikenal di propinsi kami Jazan. Wabillahit-taufiq.

Makna Umum :

Nabi e telah mengabarkan kepada umatnya di dalam hadits Abu Said ini bahwa tidak ada zakat bagi yang kurang dari 5 ekor onta dan tidak ada zakat bagi yang kurang dari 5 uqiyah perak serta tidak ada zakat bagi yang kurang dari 5 wasaq hasil pertanian.

Dan ini adalah rahmat Allah kepada hamba-Nya yang diwajibkan mengetahui ukuran apa-apa yang berasal dari hukum syariat sehingga menjadi sebab bertambahnya Iman. Wabillahit-taufiq.

Fikih Hadits :

1. Bahwa tidak ada zakat bagi yang kurang dari apa yang telah disebutkan dari onta, perak dan hasil pertanian. Para Ulama’ berbeda pendapat jika kekurangannya (dari batas nishabnya) sedikit. Apakah tergolong wajib zakat ?

Malik berpendapat bahwa sedikit kekurangan tidak menjadi penghalang wajibnya zakat.

Sementara sebagian Ulama’ lainnya berpendapat bahwa kekurangan adalah penghalang wajibnya zakat, sama saja sedikit atau banyak.

2. Dipahami dari sabda Nabi e :

((لَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ)).

Artinya : “Tidak ada zakat bagi yang kurang dari lima uqiyah”.

Bahwa zakat perak dan zakat perdagangan wajib dikeluarkan pada setiap nilai yang telah mencapai 200 dirham keatas, dengan syarat telah masuk satu haul (satu tahun). Tidak boleh berkurang nilai nishab tersebut dalam satu haul. Jika berkurang pada pertengahan haul, kemudian kembali mencapai nishab pada akhir haul, maka tidak wajib zakat. Dan waktu penghitungan yang benar adalah saat nilainya kembali mencapai nishab. Maka perhitungan satu haul dimulai saat nilainya mencapai nishab.

3. Nishab perak adalah 200 dirham. Adapun yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 1/40 nya (2,5 %). Setiap 200 dirham dikeluarkan 5 dirham. Dan kelebihannya masuk dalam perhitungannya.

Dan 200 dirham sama dengan 50 riyal Saudi (SAR), sebab 1 SAR sama dengan 4 dirham.

4. Di dalam hadits ini tidak disebutkan nishab emas.

Sebagian Ulama’ mengatakan bahwa tidak terdapat hadits shahih tentang nishab emas. Dan diantara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abdil Barr dan diikuti oleh sejumlah Ulama’.

Akan tetapi Ibnu Abdil Barr sendiri telah menukil ijma’ bahwa nishab emas adalah 20 mitsqal. Sementara yang diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri dan Az-Zuhri bahwa nishab emas adalah 40 mitsqal. Dan ini adalah pendapat yang syadz (ganjil) yang tidak diperhitungkan.

Abu Daud telah mengeluarkan shahifah Amr bin Hazm dari jalan cucunya (bernama) Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm. Di dalamnya terdapat keterangan nishab-nishab zakat. Dan di dalamnya, dia menjelaskan nishab emas dengan isnad yang tidak terdapat celaan padanya. Dan Al Mundziri menyetujuinya.

Saya berkata : Hadits-hadits tentangnya yang terdapat padanya sedikit kelemahan, saling menguatkan, disertai kesepakatan yang dicapai bahwa nishab emas adalah 20 mitsqal. Dan telah dijelaskan dalam kitab (الإِيْضَاحُ وَالتِبْيَان) bahwa 1 mitsqal, berat bersihnya adalah 4 23/100 gram (4,23 gram).

5. Nilai diatas dibulatkan dengan menambah 2/100 gram, sehingga 1 mitsqal adalah 4,25 gram. Sehingga nishab emas adalah 85 gram, dari hasil perkalian 4,25 dan 20 mitsqal.

Apabila kita menghitungnya secara tepat, maka nilainya adalah 84,6 gram. Dan ini adalah nilai emas murni

Apabila emas tersebut campuran seperti emas 21 karat yang campurannya adalah 1/8 nya. Maka nishabnya kurang lebih 96 gram. (Nilai ini berasal dari (1/8 X 85) + 85 = 95,625 gram).

Apabila emas tersebut berjenis 18 karat, maka ditambah 1/4 dari jumlah nishab yaitu 21,25 gram. Kemudian ditambahkan kepada 84,6 gram, maka nishabnya adalah 105,75 gram.

Bisa disimpulkan :

- Nishab emas 21 karat adalah 96 gram dari emas campuran.

- Nishab emas 18 karat adalah 106 gram dari emas campuran.

Maka masing-masing nilai ini setara dengan 85 gram emas murni.

Ini adalah nilai nishab wajib zakat dengan syarat nilai tersebut tidak berkurang di pertengahan haul. Wabillahit-taufiq.

Saya berkata : Syaikhuna Ahmad An-Najmi menambahkan : Nilai tambahan tersebut (1/8 pada 21 karat dan 1/4 pada 18 karat) adalah nilai campuran emas yang berlaku di Saudi Arabia. Dan nilai campuran tersebut bisa ditanyakan di negeri pembayar zakat tinggal. Selesai.

Faedah :

Para Ulama’ berbeda pendapat tentang perhiasan yang dipakai, baik dari emas maupun perak. Apakah wajib dizakati atau tidak ?

Mayoritas Shahabat dan generasi setelah mereka berpendapat bahwa perhiasan emas yang dipakai tidak dikenakan zakat, dikiaskan kepada sapi pekerja. Imam yang tiga, yaitu Malik, Asy-Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal juga berpendapat demikian.

Sementara sejumlah Ulama’ berpendapat wajibnya zakat perhiasan, sama saja, apakah dipakai atau tidak. Diantara mereka adalah sejumlah Shahabat, Abu Hanifah dan sebagian Ulama’ pada zaman kita yang diantara mereka adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin.

Dan ini adalah pendapat yang benar menurut pendapat saya dan dengannya saya tunduk kepada Allah, sebab terdapat tiga hadits yang shahih tentangnya :

Pertama : Hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma tentang wanita dari Yaman yang datang kepada Nabi e, sementara pada tangan anak perempuannya terdapat dua gelang tebal dari emas. Kemudian Nabi e bertanya :

((أَتُؤَدِّيْنَ زَكَاةَ هَذَا ؟ قَالَتْ : لاَ. قَالَ : أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِمَا يَوْمَ القِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ ؟ قَال : فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ e, فَقَالَتْ : هُمَا للهِ وَلِرَسُوْلِهِ e)).([1])

Artinya : Apakah anda telah menunaikan zakat (perhiasan) ini ?

Wanita tersebut menjawab : “Belum”.

Nabi e bersabda : “Apakah anda senang di hari kiamat nanti Allah memakaikan dua gelang dari api kepada anda karena keduanya ini ?”

Abdullah bin Amr berkata : Maka wanita tersebut melepas keduanya dan memberikannya kepada Rasulullah e. Kemudian dia berkata :

“Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya e.

Dan telah shahih dua hadits lainnya tentang hal ini, yaitu hadits dari Ummu Salamah([2]) dan hadits dari Aisyah([3]) Radhiyallahu ‘anhuma.

Masing-masing hadits ini menunjukkan wajibnya zakat perhiasan yang dipakai, baik emas atau perak. Dan Syaikh Al Albani telah menshahihkannya dalam Shahih Sunan Abi Daud bab (الكَنْزُ مَا هُوَ وَزَكَاةُ الحُلِي) no 1382, 1383 dan 1384.

Adapun ayat yang mulia berikut :

]أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ[ [الزخرف : 18 ]

Artinya : Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.

Pendalilan dengan ayat ini tentang tidak wajibnya zakat perhiasan yang dipakai adalah pendalilan yang tidak pada tempatnya, sebab (pemberian) anugerah dengan perhiasan tersebut, tidak menghalangi kewajiban zakat perhiasan. Wallahu Ta’ala a’lam.

Sabda Nabi e :

((وَلاَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ ذَوْدٍ صَدَقَةٌ)).

Artinya : “Tidak ada zakat bagi yang kurang dari lima dzaud”.

Kalimat ini menunjukkan bahwa jumlah nishab terendah pada onta yang wajib dizakati adalah 5 ekor.

Apabila jumlah onta telah mencapai 5 – 9 ekor, maka zakatnya adalah satu ekor kambing.

Apabila mencapai 10 ekor, maka zakatnya adalah 2 ekor kambing.

Apabila mencapai 15 ekor, maka zakatnya adalah 3 ekor kambing.

Apabila mencapai 20 ekor, maka zakatnya adalah 4 ekor kambing.

Apabila mencapai 25 – 35 ekor, maka zakatnya adalah 1 ekor bintu makhadh atau 1 ekor ibnu labun. (yaitu onta yang genap berumur 1 tahun dan memasuki tahun ke-2).

Apabila mencapai 36 – 45 ekor, maka zakatnya adalah 1 ekor bintu labun (yaitu onta yang genap berumur 2 tahun dan memasuki tahun ke-3).

Apabila mencapai 46 – 60 ekor, maka zakatnya adalah 1 ekor hiqqah tharuqatul jamal. (yaitu onta yang genap berumur 3 tahun dan memasuki tahun ke-4).

Apabila mencapai 61 – 75 ekor, maka zakatnya adalah jadza’ah (yaitu onta yang genap berumur 4 tahun dan memasuki tahun ke-5).

Apabila mencapai 76 – 90 ekor, maka zakatnya adalah 2 ekor bintu labun.

Apabila mencapai 91 – 120 ekor, maka zakatnya adalah 2 ekor hiqqah.

Apabila jumlahnya diatas 120 ekor, maka setiap kelipatan 40 ekor, zakatnya adalah 1 ekor bintu labun dan setiap kelipatan 50 ekor, zakatnya adalah 1 ekor hiqqah.

Sabda Nabi e :

((وَلاَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ)).

Artinya : “Tidak ada zakat bagi yang kurang dari lima wasaq”.

Telah lau penjelasan tentang wasaq secara bahasa dan ukurannya. Dan 5 wasaq adalah 300 sha’ nabawi yang setara dengan 75 sha’ yang berlaku sekarang (di propinsi Jazan-KSA), dimana 1 sha’ mahalli sama dengan 4 sha’ nabawi.

Para Ulama’ berbeda pendapat jika hasil pertanian tersebut kurang sedikit dari 5 wasaq. Apakah kekurangan yang sedikit ini diindahkan dan tetap terkena kewajiban zakat ?

Disini terdapat tinjauan dan perbedaan pendapat diantara paara Ulama’. Dan yang jelas bahwa zakat tidak wajib kecuali hasil pertanian tersebut mencapai nilai nishab ini.

Kemudian kewajiban zakatnya adalah 1/10 (10 %) dari pertanian tadah hujan dan 1/20 (5 %) dari pertanian yang diairi dengan usaha seperti pengairan dengan menggunakan onta sebagaimana dahulu dilakukan dan sumur-sumur bor yang dialirkan ke lahan pertanian dengan teknik pengairan yang menggunakan mesin-mesin sekarang ini.

Kemudian mereka berbeda pendapat tentang jenis hasil pertanian yang wajib dizakati ?

Mayoritas Ulama’ berpendapat bahwa kewajiban zakat pada setiap hasil pertanian yang dapat disimpan dan merupakan makanan pokok dari jenis biji-bijian seperti burr (jenis gandum), sya’ir (jenis gandum), tamr (kurma) dan zabib (anggur kering/kismis). Empat jenis ini terdapat di dalam hadits-hadits.

Dan selain yang tersebut, dari jenis biji-bijian yang bisa disimpan dan merupakan makanan pokok, seperti beras, jagung, dukhn (sejenis gandum), kanab (sejenis gandum) dan sebagainya.

Apabila bisa disimpan tetapi bukan merupakan makanan pokok -kecuali dalam keadaan darurat- seperti biji kapas, maka padanya terdapat perbedaan pendapat yang lemah.

Sementara Zhahiriyah berpendapat bahwa zakat tidak diwajibkan kecuali pada empat jenis hasil pertanian yang tersebut di dalam hadits, yaitu burr, sya’ir, tamr dan zabib.

Dan sebaliknya, Abu Hanifah berpendapat (bahwa) kewajiban zakat berlaku pada setiap yang ditanam dengan tujuan memperoleh hasil panennya, seperti buah-buahan, bunga-bungaan dan sayur-mayur, kecuali kayu bakar, qashab (jenis tumbuhan yang beruas, bentuknya seperti pohon tebu, biasanya untuk makanan ternak di daerah ini/KSA), rumput dan pohon yang tidak berbuah.

Hadawiyah berpendapat kewajiban zakat pada qashab, sayur-mayur dan setiap yang tumbuh dari bumi, tetapi mereka berbeda pendapat dengan Abu Hanifah. Mereka memberlakukan ukuran wasaq pada setiap hasil tanaman yang bisa ditakar dengan mengamalkan hadits Abu Said t. Dan mereka memberlakukan nishab perak pada sayur-mayur dan sebagainya. Mereka menetapkan kewajiban zakat pada apa-apa yang tidak tergolong bernilai. Apabila volumenya mencapai 200 dirham maka wajib dizakati.

Dan yang tampak menurut saya bahwa pendapat mayoritas Ulama’ adalah pendapat yang benar. Yaitu bahwa zakat diwajibkan pada setiap hasil pertanian yang merupakan makanan pokok dan bisa disimpan. Dan selain jenis tersebut, terdapat toleransi dari Nabi e. Dalam hal ini terdapat hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr bin Al Ash t. Wabillahit-taufiq. Selesai.

Al Faqir ila ‘afwi Rabbihi

Abu Abdillah Muhammad Yahya

14 Syawal 1428 H/24 Oktober 2007 M

Desa Nijamiyah-Kab. Shamithah-Prop. Jazan

Kerajaan Saudi Arabia

Ikhtishar :

1 dirham baghliyah

8 danaq

zakat emas dan perak

zakat onta

Contoh menghitung volume zakat emas dengan nilai mata uang.

Dari tabel harga emas pada Toko Emas H. Keuchik Leumiek Banda Aceh tanggal 19 Oktober 2007 bahwa harga 1 gram emas murni adalah Rp. 220.000,00.

85 gram x 220.000,00 = 18.700.000,00 rupiah adalah nishab emas murni.

2,5 % x 85 gram x 220.000,00 = 467.500,00 rupiah adalah nilai zakat yang dikeluarkan. Dan zakat emas bisa dibayar dengan emas atau dengan uang.

Contoh menghitung volume zakat perak dengan nilai mata uang.

Harga perak 26 Januari 2007 ( http://www.analisadaily.com/6-3.htm) adalah $13,27 per ons (1 ons = 28,35 gram). $ 1 = 2,14 gram. Dengan asumsi $1 = Rp 9.000,- akan diperoleh 1 dirham adalah 2,97/2,14 x 9.000,00 = Rp 12.500,00.

200 dirham x 12.500,00 = 2.500.000,00 rupiah adalah nishab perak.

2,5 % x 2.500.000,00 = 62.500,00 rupiah adalah nilai zakat yang dikeluarkan.

Nilai-nilai ini adalah standar minimal wajib zakat. Adapun selebihnya tingal dihitung kelebihannya. Syaikhuna Ahmad An-Najmi hafizhahullah berkata : “Penghitungan zakat mal dengan menggunakan dirham adalah penghitungan yang mu’tabar”. Wabillahit-taufiq.




([1] ) النسائي في كتاب الزكاة باب زكاة الحلي رقم 2479 وأبو داود في الزكاة باب الكنز ما هو وزكاة الحلي رقم 1563 والترمذي في الزكاة باب ما جاء في زكاة الحلي رقم 637 ولكن بلفظ ( امرأتان ) والإمام أحمد في مسند المكثرين والقبائل بلفظ امرأتان أيضاً (حسنه الألباني ) .

([2] ) حديث أم سلمة رضي الله عنها قال : (كنت ألبس أوضاحاً من ذهب فقلت : يا رسول الله أكنـز هو ؟ فقال : ما بلغ أن تؤدى زكاته فليس بكنـز) أخرجه أبو داود 1564 والحاكم 1/390 والدارقطني 2/105 والبيهقي 4/139 وصححه الحاكم على شرط البخاري ووافقه الذهبي .

([3] ) حديث عائشة رضي الله عنها قالت : (دخل عليّ رسول الله e فرأى في يديّ فتخات من ورق فقال : ما هذا يا عائشة ؟ فقلت : صنعتهن أتزين لك يا رسول الله فقال : أتؤدين زكاتهن ؟ قلت لا أو ما شاء الله قال : حسبك من النار ) أخرجه أبو داود 1565 والحاكم 1/389 والدارقطني 2/105 والبيهقي 4/139 وابن حزم 6/98 وقال الحاكم صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه ونقل الزيلعي في نصب الراية 2/271عن ابن دقيق العيد أنه قال الحديث على شرط مسلم .

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: